Ketua Umum PWRI Suriyanto PD : Dusta Dwi Hartanto, Tampar Dunia Pendidikan Indonesia.
DPC PWRI KOTA BENGKULU, JAKARTA - Publik tanah air tersentak oleh kebohongan yang dilakukan Dwi Hartanto, ‘ilmuwan’ yang sempat digadang gadang sebagai penerus BJ. Habibie, namun kenyataannya klaim atas prestasinya, hanyalah hasil akal-akalan, alias bohong.
Dwi yang kabarnya, mengaku telah mendulang segudang prestasi bidang teknologi kedirgantaraan, dengan klaim memenangi berbagai lomba bergengsi di Jerman pada Juni 2017, yang diikuti oleh ESA ( Eropa ), NASA (AS), DLR (Jerman), ESTEC (Belanda), JAXA (Jepang), UKSA (Inggris), CSA (Kanada), KARI (Korea), AEB (Brasil), INTA (Spanyol), maupun negara-negara maju lainnya.
Klaim ‘prestasi’ Dwi tersebut, memicu kecurigaan Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I 4), Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), serta pihak TU Deft, dengan membentuk tim investigasi untuk mengusut berbagai kejanggalan yang dilakukan Dwi Hartanto.
Menurut mereka, banyak kejanggalan sidang P.hD, apalagi selama ini Dwi tidak mau membagi publikasi karya-karya ilmiahnya, dengan berbagai dalih.
Pemerhati Pendidikan, Suriyanto, PD, mengungkapkan, apa yang dilakukan Dwi Hartanto, merupakan bentuk tamparan terhadap dunia pendidikan di Indonesia.
Menurutnya, ke depan institusi terkait harus lebih selektif dalam mengirimkan mahasiswa Indonesia yang akan menempuh pendidikan lanjutan ke luar negeri, apalagi mereka yang mendapat beasiswa negara.
“ Kasus Dwi Hartanto, tidak hanya memalukan dunia pendidikan di tanah air, namun juga mempermalukan bangsa di forum Internasional. Mengklaim suatu prestasi, tanpa dibarengi dengan proses yang semestinya, apalagi dalam forum ilmiah internasional, merupakan pelanggaran berat,” kata Suriyanto.
Menurut Ketua Umum PWRI Pusat ini, ia sangat mendukung langkah KBRI Den Haag, yang mencabut gelar penghargaan yang diberikan kepada Dwi Hartanto.
“ Dunia pendidikan kita, harus steril dari ulah oknum-oknum yang merusak dan mempermalukan bangsa di mata Internasional,” tandas Suriyanto.(*)
Redaksi : Martanus
Sumber : petajatim
Sumber : petajatim

Tidak ada komentar:
Posting Komentar